KOTAK PENSIL

Senin, 15 November 2010

Aku masih saja sibuk memilih tempat pensil yang lucu di salah satu  toko aksesoris di suatu Mall. Terus ku jelajahi benda-benda imut itu sampai aku lupa waktu.
“Dek, udah sore loch… pulang yuk…” ajak Mas Vi yang sedari tadi menungguku
“Ya mas, bentar lagi deh.. belum nemu yang pas nih.. “ ujarku sambil memilih tempat  pensil.
Mas Vi nampak sedikit kesal karena sudah menungguku cukup lama, namun kubiarkan saja karena aku masih sangat ingin mencari tempat pensil warna biru muda idamanku yang kulihat di majalah kemarin.
Selama memilih tempat pensil, aku melihat suasana di sekelilingku. Ada rasa iri yang perlahan mulai mengusikku. Aku dikelilingi banyak pasangan anak dan ibunya, yang nampak asyik memilih barang-barang lucu seperti tali rambut , gelang, bros dan aksesoris lainnya. Hem. . rasanya aku juga ingin seperti mereka mengajak ibuku berbelanja seperti mereka. Kalau saja sore ini aku masih bisa mengajak ibu menemaniku berbelanja mungkin aku tidak akan sepusing ini memilih puluhan benda mungil yang menggodaku. Karena ibu pasti akan memberi saran yang dijamin cocok dengan seleraku. Walaupun aku sebenarnya sudah cukup senang ditemani Mas Vi yang super duper baik walaupun agak crewet dan nyebelin. Tapi ibu, tetap saja memberi nuansa yang berbeda di setiap situasi hidupku. Ibu yang memberi ketenangan, keyakinan, dan kekuatan yang menjadi bahan bakar semangatku.
“Hei,,, ayo… udah dapat ?” Suara Mas Vi tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Ups, kasih aku waktu 10 menit lagi ya mas, aku janji 10 menit lagi pasti selesai…plis….!” Rayuku dengan sekuat tenaga.
“ Ya udah, cepet…!” Mas Vi kemudian keluar dan meninggalkanku sendiri.
Tapi aku cuek aja jalan sendiri.Aku kemudian meneruskan mencari-cari tempat pensil itu, yup…  Alhamdulillah dapat, ternyata tinggal satu.Tapi, ada seorang ibu yang usianya mungkin seusia dengan ibuku juga sedang ingin mengambil tempat pensil itu. ku urungkan niatku untuk mengambil tempat pensil itu dan kupersilahkan ibu itu untuk mengambilnya. Namun ibu itu mencoba menolak.
“Saya tidak terlalu suka dengan tempat pensil itu bu, untuk ibu saja.. “ kataku sambil memberikan tempat pensil itu.
“Terimakasih dek, anak ibu sangat menginginkn tempat pensil ini.” Kata ibu itu dengan wajah berseri karena sudah berhasil menemukan tempat pensil idaman anak perempuannya..
“Ya bu, sama-sama, saya duluan ya bu… Assalamu’alaykum..^^..
“Hati-hati ya dek, Wa’alaykumssalam..”
Jujur, aku kecewa karena aku nggak bisa dapatin tempat pensil idamanku, tapi senyum ibu tadi menjadi penawar kekecewaanku. Hem, senyum dari seorang ibu yang sangat mengidamkan kebahagiaan anaknya. Persis dengan ibuku, , , , ,
Akhirnya aku putuskan untuk pulang, kutemui Mas Vi yang sudah ngedumel aja. Sepanjang perjalanan pulang, Mas Vi hanya diam, gak seperti biasanya yang cerewet dan galak abis. Tiba-tiba , di tengah perjalanan ia memotong jalan, dan aku paham betul itu bukan jalan  menuju rumahku.
“Mas, mau kemana?” tanyaku penuh penasaran.
Tapi lagi-lagi Mas Vi hanya diam. Hem, tapi nampaknya aku tahu mau dibawa kemana sama si mas, , yap… makam ibu..
“Kenapa kesini ? bukannya tadi buru-buru mau sampek rumah ya”
“Bentar aja kenapaa? Gak boleh?”
“Boleh aja, sewot amat sih kamu mas..?”
“Biarin…”
“Dasar nyebelin … >.<!!” ujarku sambil membersihkan makam ibu yang sudah mulai di tumbuhi rumput-rumput liar.
“Nyebelin tapi ngangenin kan? Oh iya, nih buat kamu…” kata Mas Vi sambil memberikan sebuah bungkusan kado untukku..
“Iya sih,hehehe… apa nih?”
“Buka ajah…”
“oke..” kataku mengiyakan dan membuka kado itu, ,
Aku kaget bukan main ketika aku melihat kado itu adalah kotak pencil yang aku inginkan.
“Kok bisa sih Mas?”
“Ya bisalah, tadi aku lihat semua yang kamu alami dengan ibu-ibu tadi. Dan sebenarnya,sebelumnya aku sudah lihat kotak pensil yang kamu idamkan itu di toko sebelahnya, ketika kamu memberikan kotak pensil itu pada ibu tadi aku langsung berlari menuju toko sebelah yang ternyata juga hanya tinggal satu.”
“Kenapa gak bilang dari tadi kalo ada kotak pensil ini di toko sebelah?”
“Ya mana aku tahu, kamunya gak bilang, lagian kalo aku kasih tau. Kamu gak akan mengalami kejadian seperti tadi yang mengajarkanmu tentang banyak hal kan?”
“Iya sih… trus kenapa ngajak aku ke makam ibu?”
“Aku tahu, kamu rindu ibu. Aku ini kakakmu, gak perlu kamu katakana apa yang kamu tengah rasakan terkadang aku sudah tau dari gelagatmu. Aku melhat dari matamu itu adikku sayang.. ^.^”
Aku tak lagi mampu berkata apapun, sejenak aku terdiam. Aku galau, tapi bahagia miliki kakak yang super duper pengertian seperti mas Vi. Seketika itu juga, aku menagis sejadi-jadinya di pelukan Mas Vi dan di dekat makam ibu….. ini tangisan kebahagiaan penuh syukur atas anugrah yang tiada tara dari-Nya…

0 komentar:

Posting Komentar