kata mereka

Selasa, 20 Desember 2011


Dari 1000 pengalaman seorang pemenang sejati, ia pasti pernah mengalami 999 kegagalan dan 1 kesuksesan di akhir ceritanya. Tetap ulet, tetap gigih. #Itsna Q. A.

Harus kuat, buang semuanya yang ndak penting. Kita masih bisa mengejar ketinggalan kita. Ayoo, kita bisa!! #Solekha P.

Yang penting kita punya semangat pantang menyerah dan usaha yang gigih. Kita pasti menang!! #Ibnu A. S.

Yang menang yang tertawa belakangan! #Heru P.

Orang yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri tanpa mau memahami lingkungan di sekitarnya serta tak mau mengerti orang lain tapi memaksa untuk selalu dimengerti tak ubahnya seperti pengidap autis. #Ratih P. W.

Manusia sudah diberi waktu untuk hidup, tapi masih saja mengeluh. Sekarang waktunya mencari bekal untuk di akhirat, bukan waktunya untuk mengeluh! #N. Pandu H.

Awakedewe ki asline iso, gur kerep ora bejo. #Dessy M.

Tibo bola-bali kan malah gawe awakedewe kuat! #Rahmawati I. S.

Tersenyumlah ketika kau direndahkan, karena suatu saat nanti orang yang merendahkanmu akan bisa meninggikanmu karena usahamu. Mensugesti diri sendiri itu pakai sugesti yang positif-positif mawon. Nek sugestimu negative koyo ngono kui yo tetep ngono kui uripmu. Cemungudt kauan! #Onika A. W.

Jika kamu ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup, cobalah mengok orang-orang yang masih di bawah kamu. Banyak di antara mereka yang memiliki berbagai kekurangan, bahkan jauh di bawahmu. Dengan begitu kamu akan bersyukur dan merasakan kebahagiaan. #Retno D.

Kalau sama-sama pasti kita bisa, jangan takut! #Nurul K.

Sukmben sing curang yo bakal katauan. #Arindya M.

Yang penting tidak melirik dan tidak dilirik. #Ambar D. J.

Rejekine wong wis enek sing ngatur. Dia pasti punya alasan di setiap cobaan hidup kita. #Nur L. F.

Sejail-jailnya seorang lelaki, tetap saja tidak tega jika melihat seorang wanita menangis. #Dessy A.

Mensugesti diri sendiri sama yang jelek-jelek kok dijadiin hobi. #Ardela A. W.

BEAUTIFUL DAY

Minggu, 18 Desember 2011


Ditengah kemuakan yang menguras emosi dan menyayat hati, ternyata Tuhan tetap punya sesuatu untuk membuat aku bisa kuat. Beberapa hari belakangan ini setelah semesteran ada banyak hal indah dibalik kemuakan yang aku rasakan. Ain,Indah,Ratih,Astri,Dessy,Arin,dsb merekalah obat muakku. Sehari setelah semesteran, kami mendapat undangan singgah ke rumahnya Ain untuk perbaikan gizi sebelum keesokan harinya kami akan mengikutu doras. Waw, seperti dugaan kita sebelumnya, pasti akan banjir makanan, kami semua kalap dan makan hidangan yang telah disediakan dengan membabi buta. *hahaha. Karena orang tua Ain baru saja pulang dari haji,jadi sudah  jelaslah menu utama kita siang itu adalah kurma,tapi ada juga kentang goreng, dan kacang-kacang arab yang ajiiiib banget. Seperti biasa past kita ngobrol ngalor ngidul kalau udah kumpul-kumpul, curhat-curhat, ngomongin masa depan, ngomongin semesteran, dan sedikit ngomongin orang.. *hahaha. Tak lupa sebelum kita pulang kita diminta minum air zam-zam yang udah full doa sama ibunya Ain, so pasti kita nggak nolaklah. Habis itu masih dikasih sesuatu sama Ibunya Ain. Pokoknya makasihhh banget buat Ain dan keluarga, semoga mendapat berkah dari Allah [AAMIIN]. Usai perbaikan gizi, kita pulang.
Keesokan harinya , kita kompakan telat masuk sekolahnya kecuali Indah, karena dia ada jadwal praktikum Biologi. Hari ini aku ada jadwal remidi BI, jam 9 tet aku masuk ke kelas XII IPA 5. Kemarin aku udah diprivat belajar sama teman-teman jadi ya udah punya persiapan. Setelah remidi, eh ternyata kau nggak remidi ulangan, padahal udah selesai, sakit sih tapi ya udahlah yaa. Habis remidi yang agak mengenaskan itu aku sama Dessy langsung menuju lapangan buat liat Ratih ikut pecah air. Eh tapi udah habis. Tapi senanglah ternyata Ratih menang walau pun agak kecewa karena nggak bisa menyaksikan live penampilannya Ratih.
Setelah ngasih selamat ke Ratih atas kemenangannya, aku ,Ratih,Ain,Astri, dan Dessy langsung bergegas menuju ke kelas X RSBI 7 tempat diadakannya doras. Sayang, Indah nggak bisa ikut karena HB nya nggak mencukupi. Alhasil hanya aku dan Ratih yang ikut doras. Pertama-tama kita disuruh ngisi formulir gitu , ya semacam formulir pendaftaran mungkin. Lalu nimbang berat badan, deg-degan sih karena selama ini nggak pernah nyampek 45 kg. dan jreng-jreng, 45 kg kurang dikiiiiiiiiit. Lega bener deh ya rasanya. Trus lanjut priksa HB, Alhamdulillah normal. Tensi juga normal, tapi ibu-ibunya petugas tensi masak bilang “Iki cah cilik meh ngopo”, eh mak jleb. Terus aku bawa deh tu timbangan ke dekatnya si ibu petugas tensi terus aku tunjukkin berat badanku. Eh malah jadi diketawain. Tapi nggak papa, ibunya lucu kok, aku suka gojekan sama ibunya. Hehehe.
Setelah semuanya dinyatakan oke, aku langsung cari tempat suntikannya yang kosong. Eh mendadak agak lemes ngeliat ada yang pingsan. Tapi nggak mau mundur , tinggal selangkah ini. Oke, udah rebahan, kali ini tangan kanan yang jadi korban. Pertama tangannya dkencengin gitu terus bles jarumnya masuk dan darahnya pindah ke kantong. Munak sih kalau bilang nggak sakit, heheh. Eh kayaknya aku kelewat hyperaktif sampek pembuluh darahnya pecah terus darahnya nggak ngalir  lagi, padahal bari dapet separo kantong. Terus ibunya bilang kalau ganti tangan kiri aja, aku oke-oke aja walau pun agak ngeri juga.hahah.  akhirnya balik posisi dan tangan kiri pun jadi korban. Ini lebih miris, beneran sakit deh kalau ini, abisnya ditusuk berkali-kali dan nggak ketemu pembuluhnya. Eh ibunya sampek nyerah, ya udah finally aku cuma donor setenag kantong. Tapi nggak papa kan ya, yang penting nggak nangis, :P. selama proses donor darah itu, Ambar  setia banget deh nemenin aku di sampingku sambil motoin, makasiiiiiih banget yaa Ambar..
Ternyata akhirnya Ain pengen terus ikut donor deh. Astir sama Dessy yang nggak ikut donor setia banget tuh ndampingin Ain. Setelah semua selesai kita ngemie gelas deh di depan ruang doras, makasih buat adiknya yang mau bikini kita mie gelas. :)
Udah selesai menyantap hidangan doras kita lalu beregas menuju kelas untuk absen,agak males sih tapi ya udahlah yaa..
Keesokan harinya kita kompakan buat nggak masuk. Sabtunya kita baru deh masuk sekolah, seperti biasalah aku pasti kimia remidi, udah barang tentu kalau kimia itu pasti remidi, riwayatnya udah mengenaskan sejak kelas XI dulu.
Akhirnya aku disuruh ngerjain lagi sola semesteran sama pak guru, temen-temen yang justru semangat banget. Mereka yang pinjemin soal ke Vesa, terus mereka juga yang ngerjain di perpus. Ihhh, pada baik beneeer siiiih… mereka beneran buaiiiiiik bangeeeeeeeeeeeeet deeeeh. O ya, pas udah selesai ada adik-adik osis yang minta poto-poto buat model kalender, ini nih ajang buat narsis.
Hari Senin ,aku lupa kita ngapain aja. Tapi  yang jelas selama seminggu itu kita masuk dan temanya adalah “FREEMASON”, dari mulai Kpop, spongebob, dsblah.. kita pokoknya kupas habis soal freemason, tapi jadinya malah parno. Ada apa-apa pasti dikait-kaitin. Tapi asyik kok,,,
Sekarang udang libur, liburan Cuma seminggu..setelah itu kita lanjut jihad sebagai seorang siswa.. cemungut kauan :)

M. U. A. K.


17 Desember 2011 sepertinya benar-benar menjadi hari kehancuranku. Seumur hidup, selama aku sekolah ini adalah hasil terbuuuuuuuuuuuuuuuuuuuruuuuk yang pernah aku raih. What’s wrong with Me??? Aku sudah usaha, mencoba percaya dengan apa yang kubisa, kuupayakan belajar sekuat tenaga, tapi kenapa hasilnya seburuk ini.. see! Aku terbodoh kali ini..
Aku dipaksa bodoh oleh keadaan, aku tak punya daya melawan mereka, mereka yang punya nyali tengok kanan-kiri, ngipet sepanjang tes dilaksanakan. Sedang aku yang duduk tepat di depan pengawas hanya bisa duduk dengan posisi sangat tidak nyaman, tegang, dan sesekali merasa ingin menoleh atau mengambil hp di saku rok. Tapi ketakutanku pada sang pengawas yang bermata stereo meruntuhkan semua niatku. Kuurungkan lagi niatku, lalu kubungkam rasa tidak berdayaku. Aku mengerjakan lagi dengan banyak mengandalkan keberuntungan.
Selesai tes, semua siswa keluar dari ruangan dan menceritakan apa saja yang mereka alami di dalam ruangan. Tentang hp mereka yang lupa di silent sehingga berbunyi saat sms dari teman yang mengirim jawaban masuk, atau tentang keberhasilan mereka browsing. Ini sedikit potret kerancuan saat tes semesteran. Ini tahun 2011, dimana teknologi membuat semua penggunanya kalap! Bahkan pelajar yang seharusnya tak melakukan hal bodoh ini. Ini bukan lagi zamannya lempar kertas sana-sini, bukan zamannya ngasih kode. Ini zamannya internet! Zamannya sms! Bahkan ada siswa  yang membawa 2 hp ,karena jika ada razia hp dia masih punya satu hp untuk berkomunikasi tukar jawaban dengan teman sekelas atau bahkan luar sekolah atau setidaknya browsing.
Apa ini salah siswa?? Yaa, siswa memang salah, tapi apa sepenuhnya salah mereka??? Tentu TIDAK!!!! Sekolah, guru, orang tua, hanya menuntut siswa mendapat nilai bagus saat rapor dibagikan. Tanpa mau tahu prosesnya! Hah… toh juga tidak ada yang menanyakan bagaimana jawaban ini dihasilkan  saat LJK dikoreksi oleh sang mesin otak. Ancaman masuk ruang khusus yang ditujukan untuk siswa yang berbuat curang pun sama sekali tidak efektif! See! Masih banyak yang berani curang! Pengawas hanya cenderung mengawasi apa yang ia lihat saja, banyak hal yang harusnya mereka awasi, tapi faktanya mereka hanya melihat tidak memperhatikan! Kalau pun memperhatika ia hanya memperhatikan yang ada disekitarnya, jelas siswa yang duduk di bangku paling depan menjadi orang yang paling siaal!
Bagi siswa yang punya IQ di atas rata-rata mungkin berekompetisi dengan siswa-siswa yang curang bukanlah hal yang sulit. Tapi tolong, lihat kami yang punya IQ jongkok! Rasanya ingin mati saja bersaing seperti ini! Muak!!!
Beruntung bagi siswa yang kalah bersaing lalu mendapat nilai jelek dan orang tua atau pun kerabatnya mau menerima alasannya dan tetap member dukungan.
Beda denganku, mungkin bagi kakakku alasanku mendapat nilai jelek karena kalah bersaing dengan orang-orang curang itu hanyalah alibi klasik! Bodohnya aku, seharusnya memang sejak awal aku diam saja, mengakui kebodohanku dan ketololanku, karena percuma.. mau sampai mulutku berbusa pun, kata-kataku hanya disangka alibi saja.
Aku juga tak habis pikir, guruku yang selama ini memaksa muridnya untuk jujur kini malah ikut memojokkan siswanya yang berusaha jujur walau pun mendapatkan nilai jelek. Emb, bukan memojokkan tapi menasihati di tempat yang tidak tepat.
Aku juga khawatir dengan wali kelasku, yag mungkin saja akan mebanding-bandingkan aku dengan kakakku. Ahh…
Tertekan, kehancuran yang sebenarnya baru akan dimulai. Saat aku ke rumah kakung dan ketololanku akan dibongkar oleh kakakku di depan keluarga besarku.
Pertanyaan mereka tentang PMDK atau apa pun mungkin hanya akan aku balas dengan senyum kecut. Lalu ledekan dari kakakku entah akan aku tanggapi dengan sikap bagaimana. Kadang, aku benci sekali dengan kakakku. Ia tak pernah ada untukku, bahkan saat aku benar-benar bingung memilih jalan hidup. Waktu itu aku diminta mengisi formulir tentang rencana kuliah. Jujur, aku belum punya bayangan sama sekali. Aku lalu sms kakakku, berharap ia akan membantuku memeberi solusi. Haha, seperti dugaanku sebelumnya smsku hanya seperti angin lalu, tak dianggap! Sedang aku lihat teman-temanku , mereka bisa utarakan cita-cita mereka dengan kakak atau pun orang tua mereka. Ayahku baik, tak pernah mamaksaku tapi inilah yang mebuatku sungkan. Aku tahu Ayah sangat berharap aku kuliah mengambil jurusan mipa, setidaknya fisika atau matematika. Tapi sedikit pun aku tidak ingin ke sana, aku tak punya bakat untuk itu. Ayah selalu mengangap aku akan bisa jadi seperti kakaku, menyandang gelar sarjana fisika. Ayah tak pernah bertanya padaku apa minatku. Aku pun sungkan mengutarakannya.
Aku sangat suka sastra, aku suka menulis, aku suka membaca. Aku juga telah mematenkan bahwa inilah bakatku. Tapi sulit untuk mempublishkan ini pada Ayah apalagi kakakku. Aku tahu prospek kedepannya jika aku masuk kuliah jurusan sastra sangat tidak jelas. Sekarang sudah banyak penulis handal. Dan aku, aku hanya penulis kacangan.
Hemh…  aku harus berbuat apa??
Huh, sekarang aku mencoba lebih enjoy. Persetan dengan kakakku yang akan menghinaku, persetan dengan orang-orang yang akan mempublish ketololanku dan membanding-bandingkan aku dengan kakakku. Persetan dengan semua itu!!!!!!!! Cerdas itu bukan hanya milik SARJANA FISIKA!!! Camkan itu!!!!!!!!!!!!!! Aku yakin TUHAN akan memberiku keindahan padaku setelah ini, entah kapan dan bagaimana. Terkadang ada hasrat ingin berhenti, tapi janjiku pada Ibu??? Ibu di sana pasti masih menungguku menepati janji.. yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, aku harus memaksimalkan bakatku! Persetan dengan semua rintangan yang sangat pelik ini. Aku pasti akan diberi jalan terbaik oleh ALLAH!!!!!!!!!!!!Aku tidak peduli apa dan bagaimana aku kedepannya. Aku sekarang focus menulis, barangkali ada kesempatan untukku menunjukan pada Ayah dan kakakku bahwa aku bisa sukses dengan jalan yang aku pilih.
Hidup memang keras, jalan munuju kesuksesan yang sesunggunya itu memang terjal, banyak tanjakan dan berliku. Apa susahnya bertahan jika setelah semua hambatan ini akan di dapat keindahan yang sesungguhnyaa..
Fighting!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

HARAPAN

Suatu ketika kamu tersesat di hutan belantara. Bekal perjalanan habis, kompas tak punya, alat komunikasi pun tak ada, lalu benarkah sudah tidak ada sama sekali yang kamu punya untuk bertahan hidup? Tidak, kamu masih punya satu kekuatan besar untuk bertahan hidup: harapan.
Harapan atau dalam bahasa Arab ar raja’, jangan pernah kita remehkan. Meski ia tidak nampak tapi sebetulnya ia adalah kekuatan yang amat besar. Dengan harapan, kita bisa melakukan apa yang kita mau. Kita juga mau menunggu sepanjang apapun itu jika masih ada harapan di hati. Banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan oleh sedikit orang karena adanya harapan.
Dalam babak perempat final putaran pertama Liga Champion 2004, kesebelasan asal Spanyol Deportivo La Coruna kalah telak dari tim favorit juara asal Italia AC Milan. Gawang Super Depor – sebutan tim asal Spanyol itu – kebobolan empat kali. Sementara mereka hanya bisa memasukkan satu gol. Empat lawan satu. Para pemain Deportivo putus asa bisa lolos ke babak semifinal. Untuk bisa bertahan mereka harus bisa memasukkan minimal 3 gol tanpa balas. Peluangnya amat kecil karena yang dihadapi adalah raksasa Milan yang memiliki segudang pemain kelas dunia. Hanya Javier Irureta, sang pelatih, yang masih berharap timnya bisa lolos. “Saya belum mau melempar bendera? putih,” katanya.
Ajaib. Pada putaran kedua tim Spanyol itu bisa menggulung sang calon juara dengan empat gol tanpa balas. Deportivo pun lolos ke babak selanjutnya. Pada putaran kedua itu tidak hanya AC Milan yang terjungkal. Di pertandingan lain dua klub sepakbola favorit lainnya juga mengalami kekalahan dari tim non-unggulan, walau mereka sempat ada di atas angin pada putaran pertama.
Kemenangan Deportivo La Coruna bukan sekedar mereka unggul secara teknis, bermain sebagai tuan rumah pada putaran kedua. Tapi karena sang pelatih bisa memompa semangat bertanding para pemainnya. Javier Irureta menularkan harapan kemenangan pada anak-anak asuhannya. Ia memberikan kuncinya: harapan.
Kembali pada kisah tersesat di hutan. Walaupun kamu punya kemampuan teknis menjelajah hutan, lengkap dengan peralatannya, tetap tidak ada artinya bila kamu telah putus harapan. Kamu sudah tercekam rasa takut, bayangan kematian sudah masuk ke dalam otak, dan cemas kehilangan orang-orang yang kamu cintai sudah menusuk, maka kemampuan teknis menaklukkan alam jadi percuma.
ooOoo
“Ah, harapan itu akan datang kalau kita memang punya kesempatan.” Begitulah biasanya orang-orang berbicara tentang harapan. Menurut kebanyakan orang, harapan itu akan ada kalau kita memang punya kesempatan. Misal, remaja yang di kelasnya cerdas, punya fasilitas belajar yang lengkap, akan mudah jadi juara kelas dibandingkan teman-temannya yang lain. Sama seperti dalam peperangan, biasanya pasukan yang persenjataannya komplit, jumlah personilnya lebih banyak, selalu punya kesempatan untuk menang lebih besar.
Eh, kenyataannya nggak begitu. Banyak remaja yang ‘biasa-biasa’ aja tapi bisa berprestasi. Sementara banyak remaja yang punya peluang begitu besar untuk sukses malah ‘susah’ berprestasi. Menurut para pakar psikologi atau terapis mental, faktor yang bisa membuat kita sedemikian kuat adalah karena punya harapan yang tinggi. Nah, di sini fasilitas yang komplit jadi nggak berarti kalau diri kita nggak pernah menaruh harapan untuk sukses.
Ada dua hal yang bikin pede dan harapan seseorang gede. Buat optimisme tambah besar; kekuatan fisik dan kekuatan moral. Dalam peperangan, para prajurit akan bertempur dengan semangat tinggi kalau merasa persenjataannya komplit, jumlah tentaranya banyak, dan dipimpin oleh komandan yang jago strategi.
Kalaupun fisik lemah, tapi moral berperang besar, lawan masih bisa digebug. Pujian dan sanjungan juga lumayan ampuh bikin nyali orang makin gede. Kata Bobby DePotter, pengarang buku Quantum Learning, anak-anak dan remaja yang sering dipuji oleh orang tuanya rata-rata punya prestasi belajar yang lebih oke dibandingkan mereka yang sering dicela.
Tapi kamu harus tahu bahwa ada satu lagi kekuatan yang berada di atas keduanya: kekuatan ruhiyah. Kok bisa? Ya, karena kekuatan ruhiyah akarnya adalah keimanan. Ia jauh lebih dalam menembus batin seseorang. Ia bisa membuat orang demikian bersemangat dalam berjuang/berusaha. Keimanan nggak akan goyah meski fisik seseorang lemah dan orang nggak mendukung usahanya. Kamu tahu kan, banyak para nabi dan rasul yang ditolak dakwahnya oleh kaumnya tapi mereka terus mengerjakannya. Nabi kita dan para sahabat pun mengalami hal yang sama. Mereka bukan saja menerima celaan, tapi juga penganiayaan. Rasulullah saw. pernah dilempar kotoran unta saat shalat di depan Ka’bah. Mereka yang coba-coba membaca Al Qur’an di muka umum akan digebug. Itulah yang dialami Abdullah bin Mas’ud dan Abu Bakar Ash Shiddiq – semoga Allah meridloi keduanya.
Sewaktu bersembunyi di gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah, Abu Bakar Ash Shiddiq pernah mengalami rasa takut yang hebat. Saat itu pasukan Quraisy memburu mereka berdua. Rasulullah saw. menenangkan hati sahabatnya itu dengan berkata, “Janganlah engkau takut sesungguhnya Allah bersama kita.”(At Taubah [9]:40), dan Abu Bakar pun menjadi tenang.
Remaja yang menaruh harapan pada Allah; meminta keselamatan, pertolongan, kemenangan, dan surgaNya, akan jauh lebih kuat daripada yang menaruh harapan pada selainNya. Karena, ia yakin kalau setiap langkah yang dikayuh, setiap tetes peluh yang jatuh, akan menuai kesuksesan. Andaipun tidak di dunia, ada kesuksesan lain yang akan diraih: pahala.
Maka para sahabat tidak bergeming di medan Badar saat melihat jumlah musuh 3 kali lipat lebih banyak. Mereka tetap menaruh harapan kemenangan pada Allah SWT. Begitupula saat perang Qadisiyyah melawan prajurit Persia, pasukan Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. tidak mundur sejengkal pun meski tahu musuh mereka 6 kali lebih banyak. Mereka tahu kalau kemenangan adalah hidup mulia dan kematian adalah cita-cita.
“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.”(Al Ahzab [33]:22)
Supaya kita menjadi orang yang panjang pengharapan, optimisme menghadapi kehidupan, tanamkanlah pohon keimanan sedalam-dalamnya dalam lubuk hati kita. Pancangkan akarnya, rawat batangnya dan jaga rantingnya. Insya Allah kita akan menuai buahnya yang sedap lagi indah. Jika sudah demikian, tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita untuk berjuang. Sekeras apapun medan pertempuran. Karena harapan kita pada Allah berada di atas segala-galanya. [januar]
[diambil dari Majalah PERMATA, edisi Mei 2004]

my story


 Kau tahu satu alasan kenapa aku masih mampu menulis hingga detik ini??
Itu karena kalian!!
Entahlah, ada apa dengan diri kalian. Tapi kurasa kalian sudah menjadi bagian dalam hidupku. Kedengarannya lebay ya, persis dengan tingkahku. Tapi nyatanya memang begitu, kawan. Aku bukannya sedang mendramatisir atau pun membual. Aku hanya sedang mengungkapkan apa yang aku rasakan tentang kalian.
Dengarkan ceritaku yaa.. emb, bukan maksudku baca ceritaku yaa..
Sudah hampir setengah tahun kita berpisah, ku kira aku akan segera beradaptasi dengan kelas baruku beserta makhluk-makhluk penghuninya. Namun sayang, itu hanyalah hipotesis yang salah besar! Setiap hari, aku hanya menunggu bel masuk, tapi kadang tidak ,karena aku datang on time. Lalu aku mengikuti pelajaran dengan ala kadarnya, mendengar, mencatat, dan hilang bersamaan bel ganti pelajaran. Kini aku duduk di bangku paling pojok belakang, kawan. Aku tidak lagi menempati bangku paling depan. Lalu aku selalu menanti bel pulang sekolah.  Ada yang hilang, tentu itu kebersamaan kita.  Tapi, aku juga kehilangan tujuan hidup bersamaan dengan jalan hidupku yang semakin hari semakin monoton. Tidak ada lagi crayon warna-warni yang mewarnai kanvas hidupku. Huh,, ternyata kalian semendominasi ini dalam perjalanan hidupku. Tapi, aku selalu  bersyukur pada Tuhan, karena saat aku jatuh dan tersungkur ada saja tingkah dari kalian yang membuatku berdiri lagi. Kalian seperhatian itu yaa denganku. Aku masih ingat saat kelakuanku tak sewajarnya seperti wanita remaja pada umumnya, Ibnu , Pandu , dan Retno sering sekali menegurku. Katanya aku terlalu maco untuk ukuran seorang wanita, apalagi kalau aku sudah heboh teriak-teriak. Ahh, ternyata masih ada yang memperhatikanku dan mengingatkanku. Lalu Ain,Ratih,Oni, Indah,Eka, Rembe dan lainnya merekalah yang sering meyakinkaku bahwa aku punya kemampuan. Kadang nggak nyangka juga, orang segila Oni bisa sebijak itu. Lain halnya denga Heru, kata-katanya sering sekali mak jleb di hati, aku rasa selain berbakat jadi musisi atau politisi dia juga berbakat untuk menjadi seorang penyair. Kalau Rachmat, dia itu paling enak diajak diskusi pas semesteran, haha. Si Leha belakangan juga perhatian banget. Mereka semua kerenlah. apalagi saat kesuntukan mendera sebagian penghuni kelas, Oni, Toni, Heru, Nanung, dan lainnya sering sekali membuat lelucon dari tingkah aneh mereka yag berhasil membuat seisi kelas tertawa lepas. Hahahaha, saat-saat menggila dengan kalian adalah saat di mana kebahagiaan itu nyata untuk kita rengkuh bersama. Hemh, banyak sekali aksi gila yang menurutku terlalu indah untuk dilupakan. Di penghujung kebersamaan kita, solidaritas itu semakin terasa, semakin erat. Aku bahkan mengnggap perpisahan kita adalah mimpi buruk yang tak ingin aku lalui. Tapi , beginilah takdir memisahkan kita dengan begitu cepatnya. Foto-foto dan video-video yang sudah kita buat selama setahun adalah dokumentasi yang sering sekali mnguatkanku. Kini, kejenuhan kerap kali melingkupi hidupku. Puncaknya ketika akhir semester satu. 17 Desember 2011 sepertinya adalah hari kematianku. Hasil rapot yang dibagikan kepada orang tuaku adalah hasil rapot terburuk sepanjang zaman. Jangankan Bapak, Mas atau pihak mana pun yang kecewa padaku, aku jauuuuuh lebih kecewa dengan diriku sendiri. Ingin rasanya memutar waktu, ahhh….tapi sia-sia!!!!
Aku kembali jatuh, meratapi nasib, menangis, dan tak punya tujuan. Ini adalah tahun yang berat, aku sudah kelas 3 tapi aku semakin bodoh saja! shit! Aku hancur, hancur sehancur-hancurnya. Aku malu, aku takut, aku kelu, aku muaaaaaaaaaaaaak!!! Aku  dipaksa bodoh oleh kemajuan teknologi, mereka yang punya nilai tinggi sebagian ada yang menghalalkan segala cara untuk medapatkan nilai sempurna. Shit!! Aku kalahh… ! sayangnya, Masku tak pernah mau tahu alasnku bisa mendapatkan hasil seburuk ini. Yang dia tahu aku kini bodoh, , alasnku tak pernah ia dengar! Ahh, ya sudah.. buat apa terus menjelaskan padanya , hanya buang-buang waktu.
Saat aku ngedrop, dukungan dari teman-teman tak hentinya mengalir. Ini menambah kerinduan yang teramat sangat pada mereka. Aku muak di kelas baru, aku tidak sejalan dengan jalan pikir mereka! Aku tak sevisi misi dengan mereka! Bahkan aku tak tahu apa yang sering mereka tertawakan dan mereka anggap lelucon. Tapi  aku terpaksa tertawa agar tak dianggap manusia aneh! Shit, kini hidupku dilingkupi oleh kemunafikan dan sandiwara. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!! Aku terjebak oleh ketidak nyamanan! Aku dipaksa tunduk oleh kekalahan! Aku jadi yang paling terakhir di antara mereka. Dan semua orang memojokanku dan memaksaku mengaku bodoh! Bukan, bukan semua orang, teman-temanku kelas 2 tidaak! Mereka tetap merangkulku dan menuntunku , membantuku agar dapat terus berjalan. Kalian ini luaaar biasaaaaa!!!!!!! Terima kasih…
Hingga detik ini aku masih merasakan hal yang sama……………………………………………………………………………………………
Tuhan tolong lepaskan aku dari mimpi buruk ini……………..