Aku dilanda bingung luar biasa, tetkala jutaan pertanyaan dari teman-teman dekatku seolah memojokkanku dan menjadikanku seperti tersangka. sudah hampir sejam mereka menghakimiku dengan beragam pertanyaan di taman belakang sekolah. Karena batin ini tak lagi mampu menampung segala macam ucapan mereka, dengan spontan aku berteriak. .
“Cukup, dengar penjelasanku dulu ! ! “ teriakku sambil menitikan air mata.
“Apalagi yang mau kamu jelaskan ?” Sahut Hafsoh dengan nada menyiindir.
“Banyak hal Haf… tolong beri aku sedikit waktu untuk bicara, mungkin bukan untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi setidaknya untuk memulihkan sebagian hatiku yang mulai rapuh. !” balasku dengan nada sedikit kasar.
Memang, aku tak lagi setegar atau sekuat dulu. Sudah hampir 3 hari terakhir ini, Hafsoh, Bella, Aisyah, dan Sintin selalu mnghujatku dengan pertanyaan yang panas. Masalahnya mungkin sepele dan sudah sangat wajar untuk kalangan remaja seusia kami, tapi tidak bagi kami. Awal mula masalah ini terjadi saat kami berkunjung di perpustakaan sekolah sekitar 2 bulan yang lalu. Ketika aku ingin mengambil buku tentang sastra, tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang laki-laki yang tengah sibuk memilih buku sastra juga yang berdiri tepat di sampingku, dia adalah kakak kelasku. Entah apa yang kurasakan , tiba-tiba hati ini seperti bergejolak tak karuan. Sempat kuabaikan perasaan itu. Pikirku, mungkin itu hanya perasaan kagum saja. Kucoba buang jauh-jauh semua rasa itu, yang aku sadari jika terlalu lama aku pelihara akan menumbuhkan benih-benih cinta . hem.. untuk menjernihkan fikiranku, aku putuskan untuk membuka akun FBku. Kutulis sebuah status yang sedikit mengarah tentang perasaanku kala itu, baru 2 detik aku update status, sudah ada yan mengomentari. Aku kaget, karena yang mengomentari tak lain adalah Kak Hisyam, yap..kakak kelas yang sempat membuatku kelabakan tadi di perpustakaan. Terjadilah komunikasi yang cukum intensif. Kak Hisyam sangat baik. Dia selalu memberiku motives padaku untuk tetap semangat. Akupun juga sering bertemu dengannya ketika di mushola sekolah. Semakin hari, kita semakin dekat. Jujur, aku nyaman dekat dengannya. Entah sampai kapan aku akan bertahan di posisi ini. Diposisi dimana aku memanjakan nafsuku. Syeitan benar-benar sukses merajai fikiranku. Aku melancarkan aksiku ini tentu tanpa sepengetahuan ke empat sahabat karibku. Aku tahu, jika mereka tahu pasti mereka akan marah. Karena kita ini sudah berkomotmen untuk menjaga jarak dengan yang bukan mahrom. Selain karena kita anggota rohis, kita juga sudah berjanji pada diri kita masing-masing untuk menjadi remaja muslimah seutuhnya. Tapi, aku melanggarnya, aku mulai berani berkomunikasi dengan yang bukan mahromku walaupun tidak secara langsung. Tapi samasaja, aku telah terbawa nafsu.
Lambat laun, serapih-rapihnya aku menyembunyikan semua masalahku ini, akhirnya teman-temanku itupun mengetahuinya. Reaksi mereka tak sengeri yang aku kira, mereka justru menggodaku seperti biasa.
“Cie,,, wall nya penuh Kak Hisyam semua tuh…?” Tanya Aisyah menggodaku.
“Biasa aja deh…” jawabku dengan sedikit gemetar.
“Gak ada yang biasa tauk… ! “ sahut Hafsoh.
“Cerita donk Ya’??” tambah Sintin
Tapi, karena aku tak mau dianggap sebagai penghianat, aku tak mau bercerita sedikitpun pada mereka. aku benar-benar menyimpan perasaan ini dengan sangat hati-hati. Singkat cerita, Hafsoh, Sintin,Aisyah dan Bella percaya padaku.
Semenjak itu, aku hanya berkomunikasi dengan Kak Hisyam melalui inbox fb saja. Pikirku , dengan begitu rahasia ini akan aman. Namun, karena kecerobohanku tidak mengeluarkan akun FBq ketika OL di multimedia sekolah. tanpa sengaja Hafsoh membaca semua isi perbincanganku dengan Kak Hisyam. Dan seketika semua rahasia yang kependam begitu rapat terbongkar juga, lucunya semua itu kareba ulahku sendiri. Subhanallah , Allah benar-benar luar biasa, ini cara Allah untk menuntunku kembali ke jalan yang benar. Hafsoh benar-benar marah besar. Bukan apa-apa, dia merasa dibohongi. Tepatnya kemarin, ia menyambangiku yang tengah asyik membuar karya tulis di taman belakang sekolah. Dia marah, dan aku belum pernah melihat Hafsoh semarah itu. dan selama hamper 2 hari, mereka terkesan memijokanku Puncaknya hari ini , kali ini Hafsoh bersama Sintin, Bella, dan Ais. Aku panic, aku takut, aku tahu aku salah, tapi aku tak tahu harus bagaimana??
“ Aya’ jawab… !!” suara keras Hafsoh membuyarkan lamunanku, aku masih saja terbayang-bayang kesalahanku di hari yang lalu.
“a .. a.. aku.. aku tahu aku salah, aku tahu aku memang penghianat, aku tak bisa menjaga hatiku seperti yang kujanjikan dulu pada kalian. Dan aku membohongi kalian. Tapi, semua itu kulakukan karena aku gak mau kehilangan kalian,,, aku gak bisa tanpa kalin.. apa aku salah???? Aku salah ?????????” tanyaku sambil menangis sejadi-jadinya.
“Aya’ sayang, kamu gak perlu menyalahkan dirimu sendiri, percuma…kamu tenang dulu ya,,” kata Bella sambil mengelus-elus pundakku.
“Aya’,,,,, kenapa musti takut ? kami bukan manusia yang tidak berperasaan, kami tidak pernah menyalahkanmu .. jatuh cinta itu wajar Aya’, tapi bukan berarti lalu kamu seenaknya sendiri memanjakan rasa itu. kamu harus segera menghentikannya, sebelum semua terlambat…lagian percuma juga kamu sembunyi-sembunyi, Allah tetap tahu apa yang kamu lakukan. Lakukan semua karena Allah, takutlah pada Allah buka pada kami. kami begini karena kami menyayangimu Aya’..karena kami juga tak mau kehilanganmu..” jelas Hafsoh dengan nada lembut, sembari memegang erat pundakku.
“iya Aya’… kami ini selalu siap jadi tempatmu meluapkan segala macam unek-unekmu. . jujur kami kecewa karena kamu bohong, tapi kini kami pun tak sadar tak ada gunanya mungungkit-ungkit yang sudah terlanjur terjadi.. kami sadar, mungkin tidak semua hal bisa kamu luapkan bersama kit..” tambah Ais sambil tersenyum padaku..
“yas sudah, kita perbaiki yang masih bisa diperbaiki ya,,, jangan mengungkit yang lalu.. yang lau biarlah berlalu… kita baikan lagi ya… sebelum 3 hari hlu,,,,mungkin kita-kita juga kelewat over protek ma kamu Ya’, kita kelewat kasar juga , kita minta maaf.. introspeksi masing-masing aja ya…”
Kami berlimapun tak kuat lagi menahan air mata ,, sambil menangis kami berpelukan, menandakan bahwa kita sudah kembali seperti dulu.
Dalam hati, aku berjanji untuk lebih hati-hati menjaga hati. Mulai saat itu aku tak lagi berkomunikasi dengan Kak Hisyam. Bukan untuk mengibarkan bendera permusuhan, melainkan benar-benar untuk menjaga hatiku. Jujur, aku masih menyimpan rasa padanya, tapi takakanku ikuti hawa nafsuku, aku tak mau jatuh di lubang yang sama. Semua kulakukan insyaAllah dengan ikhlas dan semata mengharap rihda Raabku…
Jangan menyalahkan perasaanmu ketika rasa itu menghampiri hidupmu… tapi, batasi semua tingkah laku serta perasaanmu agar tidak berkelanjutan… jangan sesekali menyalahkan siapapun, , jangan menyalahkan dirimu sendiri ataupun seseorang yang berhasil membuatmu merasakan cinta. .. ^^
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar