Hem… rasanya masih sama seperti pertama kali aku menatap wajahnya. Masih ada getaran rasa yang sangat janggal yang kurasakan. Tapi kembali kuabaikan, kuraih satu botol susu kedelai yang biasa ia antarkan ke tempat kostku tiap pagi.
“terimakasih bu..” ujarku sembari memberi ibu fatimah uang untuk membayar pesanan susu kedelaiku pagi ini.
“iya non Ghina, sama-sama..” jawab ibu fatimah dengan senyum khasnya, dan perlahan meninggalkanku.
Aku belum beranjak dari pintu gerbang , aku masih memeperhatikan langkah gontai wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu. hem.. ku hela nafas panjang sembari menutup pagar dan bergegas masuk kamar kostku. Pagi ini, aku harus mempersiapkan mental karena aku harus melaksanakan 3 ulangan sekaligus, ditambah tugas matematika yang sama sekali belum terjamah olehku. Huf… jalan keluarnya hanya satu, berangkat pagi dan nyari mangsa sebagai donatur jawaban matematika.
Usai sarapan dan meneguk segelas susu kedelai, kusempatkan merapikan jilbabku.dan, aku bergegas melangkahkan kaki menuju SMA N 94 JOGJA,tempatku menimba ilmu. jarum jam masih menunjukkan pukul 06.30 wib. Padahal biasanya aku berangkat pukul 06.50. hem, ini semua demi matematika. Dipertengahan jalan kujumpai kerumunan orang yang tengah menolong seorang anak yang baru saja di tabrak lari oleh mobil mewah. Aku merasa sangat penasaran, kudekati korban kecelakaan itu dan dengan teliti kuperhatikan wajahnya. Tak salah lagi, dia adalah Faros , anak laki-laki Ibu Fatimah yang masih duduk di bangku SMP kelas 1. Kudapati tubuhnya terkapar lemas, dengan keadaan bersimbah darah. Tak lama kemudian, saat nafasku masih terengah-engah karena aku kaget luar biasa,sudah terdengar suara ambulance yang siap membawa dan memberi pertolongan pada Faros ke rumah sakit terdekat. Seketika , aku melupakan tugas matematika ataupun ulangan hari ini. Sedikitpun aku tidak lagi peduli. Aku sangat khawatir dengan keadaan Faros yang mengeluarkan banyak darah. Tanpa pikir panjang, aku ikut mengantar Faros ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Faros langsung mendapat perawatan intensif. Kata dokter, Faros mengalami benturan dengan benda tumpul yang cukup keras dikepalanya, hingga mengeluarkan banyak darah. Dan harus secepat mungkin melakukan transfusi darah. Aku bingung luar biasa, karena di PMI terdekat sudah tidak ada stok darah yang sesuai dengan golongan darah Faros. Kemudian baru kuingat kalo golongan darahku sama denga Faros,. Alhamdulillah setelah di cek up, aku diperbolehkan melakukan donor darahi. kuberanika diri untuk melakuka donor darah. Hem… deg..degan banget.. setelah selesai, karena mungkin belum terbiasa aku merasa lemas, beruntung dapat segelas susu dan sebutir telur rebus. Cukuplah untuk mengembalikan kondisi tubuhku. Buru-buru aku bawa 1 kantong darah hasil donorku menuju Rumah Sakit. Hem.. sesampainya di rumah sakit, ternyata 1 kantong darah itu belum cukup. Kuputuskan untuk menjemput ibu Fatimah yang sedari tadi aku telfon tidak diangkat. Dengan berat hati aku harus meninggalkan Faros untuk sementara waktu.
Karena keadaan yang sangat mendesak, aku harus rela menggunakan uang makanku hari ini untuk naik taxi. Pikirku . tak apalah yang penting Faros bisa cepat sadar. Sesampainya di kontrakan ibu Fatimah, aku bergegas mengetuk pintu dan mengucap salam. Sembari menunggu dibukakan pintu, aku masih sangat sibuk membersihkan baju seragam osis yang tengah kukenakan terkena darah Faros ketika aku mencoba menyadarkannya tadi. Cukup lama aku menunggu dibukakan pitu, tapi Ibu Fatimah tak juga keluar. Dengan keadaan panic dan bingung tidak karuan, aku buka pintu rumah Ibu fatimah yang ternyata tak dikunci. Saat aku sampai di ruang tamu,aku dikejutkan dengan sebuah foto tua yang sudah sangat berdebu, usam dan bahkan bingkainyapun sudah tidak terawatt lagi. ada aku disitu… terlihat jelas aku sedang berada digendongan ibu fatimah, aku terlihat sangat nyaman sekali di gendongan ibu fatimah.
Apalagi ini ?? gumamku dalam hati. Siapa ibu fatimah sebenarnya? Apa hubunganku dengannya ? kenapa bu fatimah punya fotoku saat aku masih berumur 2 tahun ?
Berjuta pertanyaan yang sangat mengganjal di pikiranku saat itu membuatku tak dapat lagi berfikir jernih. Namun,harus kusingkirkan dulu masalah foto itu, aku kembali terjaga dari lamunanku tatkala wajah Faros mulai menyeruak dalam benakku. Kembali aku mencari Ibu fatimah yang sedari tadi belum juga kujumpai. Harapanku setelah bertemu Ibu fatimah aku bisa mendapat penjelasan tentang foto ini dan bisa segera menolong Faros. Sesampainya di dapur, aku kembali tercengang luar biasa. Ibu fatimah terkapar di sudut dapur , dengan keadaan sudah tak bernyawa lagi. aku menangis sejadi-jadinya. Kemudian, aku berlari minta pertolongan warga. Setelah itu, jasad Ibu fatimah dimandikan dan dikafani, semua biaya diperoleh dari warga sekitar. Karena Ibu Fatimah tak lagi memiliki suami atau sanak saudara, ia hanya tinggal bersama Faros. Hingga sore hari aku masih tertahan di kediaman ibu Fatimah. Entah, aku merasa sangat kehilangan, dan sedari tadi air mata ini masih belum bisa berhenti. Aku rapuh, , , , , , lantas, aku telfon ummiku yang berada di Solo, kuceritakan semua yang terjadipadaku hari ini. Dengan suara yang tersendat-sendat. Terdengar dari suara nyaringnya, ummi juga terdengar sedang menangis. Karena aku tak mau membebani ummi terlalu berat , kuputuskan untuk menghentikan pembicaraan itu, ummi dan abi juga akan melayat ibu fatimah sore ini juga, sebelum jasad ibu Fatimah disemayamkan. Sekitar 1 jam, ummi dan abi sampai di kediaman bu fatimah, aku lantas berlari dan memeluk ummi sekuat ragaku. Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan ummi. Ummipun juga terlihat berlinangan air mata. Dengan perlahan beliau menuntunku masuk mendekati jasad ibu fatimah. Kemudian setelah sholat jenazah, ummi menceritakan semuanya.
“Ghina sayang, ummi ingin menceritakan sesuatu hal kepadamu” ucap ummi yang terlihat sedang menahan air matanya..”
“apa ummi??” tanyaku sangat penasaran.
“begini, kamu tahu kenapa kamu ada di foto itu?”Tanya ummi sembari menunjuk foto tua yang tadi kulihat.
“enggak…”
“kamu tahu kenapa kamu sangat merasa kehilangan ibu fatimah?kamu tahu kenapa kamu sangat khawatir saat faros kecelakaan?dan kamu tahu kenapa golongan darahmu sama dengan faros?” tanya ummi yang semakin membutku bingung.
“ya karena aku sudah dekat dengan mereka mi.. dan kalau goldar mungkin kebetulan saja..“ jawabku ringan.
“ghina sayang, semua itu bukan sekedar kebetulan, semua itu terjadi karena darah yang mengalir di tubuh Faros dan ditubuhmu berasal dari seorang ibu yang sama, yaitu ibu Fatimah..” kata Ummi dengan mata yang berkaca-kaca.
Fikiranku lantas kacau seketika, bahkan aku pingsan. Aku tak tau harus berkata dan bertanya apalagi. Badanku lemas, gemetar, dan wajahku pucat. Selama ini aku tinngal bersama abi dan ummi yang ternyata bukan orang tua kandungku.. dan ibu kandungku telah terbujur kaku dihadapanku saat ini. Setelah aku sedikit lebih kuat, aku peluk jasad ibuku, kucium keningnya, untuk yang terakhir kalinya. Aku mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terkhir selepas adzan azhar sore itu. aku kembali roboh ketika jasad ibuku di masukkan keliang lahat. Aku tak kuat…!!! Usai pemakaman, aku belum siap mendengar penjelasan lebih lanjut terkait statusku pada ummi. Tapi, abi mendesak agar ummi segera bercerita agar semua urusan cepat selesai. Pikirku, ya sudah biarkan semua terselesaikan hari ini juga. Ummi lalu mulai bercerita.
Dulu, ketika aku masih berusia 2 th, ayah kandungku meninggal dunia. Kala itu, sebenarnya ibu masih sangat semangat untuk menghidupiku dan faros, namun.. tiba-tiba perhara besar menerjang kehidupan ibuku lagi.. Sebenarnya, ibu tak berniat sedikitpun untuk menyerahkanku ke keluargaku yang sekarang. Tapi, waktu itu ibu terdesak oleh keadaan. Ibu kembali diuji, saat aku terserang penyakit yang cukup parah,ada tumor ganas yang bersarang di kepalaku. sehingga aku koma dan harus segera dioprasi . ibu bingung mencari biaya untukku, hingga pada suatu ketika, ibu bertemu dengan keluargaku yang sekarang. Yap, ummi dan abi membantuku, tapi dengan 1 syarat. Aku harus menjadi anak ummi dan abi. Ibu bingung tak karuan, namun demi nafasku ini. Ibu merelakan semua kebahagiaannya, mengesampingkan egonya.
Sontak air mata ini mengalir begitu derasnya,,, sejujurnya aku sangat marah dengan Ummi, karena memisahkanku dengan ibu.. tapi apa dayaku ?? aku seharusnya berterimakasih untuk semua hal yang telah ummi dan abi berikan padaku. Kasih sayang, pendidikan, dan biaya hidupku selama ini. Aku kecewa, tapi tak sepantasnya aku menyalahkan siapapun. Ini takdir Allah, yang harus aku jalani..
Hem, Ummi melanjutkan ceritanya, ketika aku lulus SMP, Ummi memintaku untuk masuk SMA di Jogja tujuannya juga agar aku bisa dekat dengan ibu. Tapi, tentunya tanpa sepengetahuanku kala itu. hemh…. Aku menghela nafas panjang, aku mencoba merelakan semua yang telah terjadi… insyaAllah aku ikhlas..
Sekian lama kita berbincang, pikiranku kemudian tertuju pada Faros. Dengan cekatan aku, ummi , dan abi tancap gas menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Alhamdulillah, Faros sudah sehat kembali. Ia telah mendapat trasfusi darah, dan luka dikepalanya tak separah yang diduga. Dengan kata-kata yang kupadukan menjadi sebuah kalimat yang sama sekali tak beraturan, aku jelaskan perlahan apa yang telah terjadi dan siapa kau sebenarnya. Karena selama ini hanya Ibu Fatimah serta abi dan ummi yang tau statusku yang sebenarnya. Faros menangis dan memelukku dengan erat. Dia kaget luar biasa. Namun rupanya, dia juga sangat pandai mengontrol emosinya. Hem… aku tak mau terlampau larut dengan kesedihan ini… akhirnya , abi mengambil keputusan untuk merawat Faros, dan kita berempat tinggal bersama. Namun, aku tak mau pindah sekolah. Aku tetap bertahan .. demi ibu, bapak, ummi, dan abi.
Dari semua hal yang terjadi, aku belajar untk menghargai takdir, mengikuti scenario yang dibuat Allah untukku, karena aku yakin inilah yang terbaik dari yang terbaik untukku dan semua yang terlibat dalam hidupku.
Kini, disetiap pagiku tak ada lagi yang mengantar susu kedelei favoritku. .. ..
Ya Rabb,,, berikan kekuatan padaku,,, lindungi keluargaku.. berikanlah cahaya terangmu untuk bapak dan ibu di sana… semoga kelak, kami bisa dipertemukan dijannah-Mu…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar